BEKASI, CyberSatu – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bekasi dinilai memiliki posisi strategis di kancah kepalangmerahan Jawa Barat. Kabupaten Bekasi disebut masuk dalam tiga wilayah dengan kekuatan PMI yang menonjol bersama Kota Bandung dan Kabupaten Cirebon.
Irjen. Pol. (Purn.) Drs. H. Adang Rochjana mengatakan, posisi tersebut menjadi modal penting bagi PMI Kabupaten Bekasi untuk terus meningkatkan kiprahnya dalam pelayanan kemanusiaan.
“Di Jawa Barat ada tiga yang cukup kuat, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Cirebon. Bekasi memiliki potensi besar, bahkan bisa menjadi contoh dan membantu PMI kabupaten atau kota lainnya,” ujarnya, Senin (14/09).
Menurutnya, kekuatan PMI tidak hanya ditentukan oleh organisasi dan jumlah kegiatan, tetapi terutama dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Karena itu, setiap program harus diarahkan pada pelayanan kemanusiaan, bukan sekadar membangun citra organisasi.
“Yang harus ditunjukkan adalah bukti nyata. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kata-kata, tetapi membutuhkan kehadiran PMI yang memberikan manfaat ketika mereka membutuhkan,” katanya.
Adang menegaskan, penguatan peran PMI juga harus tetap berpedoman pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan, termasuk prinsip netralitas dan kemandirian organisasi.
“PMI harus tetap netral dan mandiri. Para pembina memiliki kewajiban memberikan perlindungan dan dukungan, tetapi tidak mencampuri struktur internal organisasi,” jelasnya.
Ia juga mendorong penguatan koordinasi antara PMI dengan BPBD, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta kapasitas relawan dalam menghadapi berbagai kondisi darurat.
“Koordinasi ini harus diperkuat agar relawan semakin siap. PMI tidak bisa bekerja sendiri, sehingga sinergi dengan pemerintah dan sektor terkait sangat diperlukan,” ungkapnya.
Menurut Adang, kekuatan PMI juga sangat ditentukan oleh keberadaan relawan, mulai dari Donor Darah Sukarela (DDS), Tenaga Sukarela (TSR), Korps Sukarela (KSR), hingga Palang Merah Remaja (PMR). Pembinaan yang konsisten diperlukan untuk menjaga kesiapan pelayanan kemanusiaan.
“Relawan harus terus dilatih dan dibina. Donor darah maupun kegiatan kemanusiaan harus dipahami sebagai bentuk pengabdian dan ibadah, bukan untuk mencari keuntungan atau penghargaan,” tuturnya.
Dengan masuknya Kabupaten Bekasi dalam tiga PMI daerah yang dinilai kuat di Jawa Barat, Adang berharap capaian tersebut menjadi motivasi untuk memperluas manfaat sekaligus menjadi penggerak bagi penguatan PMI di daerah lainnya.
“Bekasi punya potensi untuk menjadi pembina bagi daerah lain. Tetapi yang paling penting, semua kegiatan harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan dilakukan dengan niat yang tulus,” pungkasnya.
Red
